Orang-Orang Baik

Setiap perjalanan membawa saya berkenalan dengan orang-orang baru. Orang-orang dengan berbagai latar belakang. Tahun 2018 ketika mendaki Gunung Tambora lewat Desa Pancasila saya dan teman-teman berkenalan dengan Om Bek, nama aslinya Bakrie, kakek tua yang rumahnya menjadi basecamp gratis untuk para pendaki. Rumah Om Bek tidak besar, tim kami yang waktu itu terdiri dari 12 orang harus tidur dengan satu gaya (biasanya kalo tidur ada yang punya banyak gaya, suka bolak-balik badan lah atau tangannya suka ke mana-mana) karena tidur berdempetan, membalikkan badan bisa jadi mengganggu teman yang lain. Sedikit “tersiksa” karena saya tidak bisa diam kalau sedang tidur tetapi keramahan Om Bek membuat kami nyaman. Kami disambut dengan kopi Tambora yang mengawali cerita-cerita panjang tentang pendakian, api unggun yang menghangatkan hawa dingin Pancasila malam itu. Beberapa homestay sudah berdiri di Pancasila, dengan tarif beragam untuk para pendaki. Namun, rumah Om Bek masih dengan kesederhanaannya menampung para pendaki dari berbagai daerah. Seminggu setelah pendakian, ketika kami sampai kembali ke rumah Om Bek, dia menyambut kami dengan hangat, “Saya sampai tunggu kalian lama di batas desa anak, saya kira kalian kenapa-kenapa”. Rupanya beberapa hari yang lalu Om Bek sempat khawatir dan pergi menunggu kami, begitu peduli padahal kami baru berkenalan dengannya. Lembo Ade Om Bek, semoga bisa berjumpa lagi orang baik…

Dari Barat Daya Gunung Tambora, di Timur Laut Gunung Ebulobo ada Mama Marselina Ebulobo (bukan nama sebenarnya). Saya bertemu dengannya saat mendaki Gunung Ebulobo, Juli 2019. Nama Mama ini sebenarnya Marselina Nanga, “Saya ke mana-mana kalo perkenalan saya pake Ebulobo bukan Nanga karena saya suka Ebulobo” ujar Mama Marselina. Sejak hari pertama menginap di rumah Mama Marselina dan Bapak Bernabas kami sudah disambut dengan hangat oleh pasangan suami istri ini. Lagi-lagi kopi menjadi pembuka cerita-cerita yang mencairkan suasana antara kami. “Kopi ini Kopi Mulakoli, hitam pekat tapi manis”, Mama Marselina kembali mencairkan suasana. Sejak awal berkenalan Mama Marselina memberika service kepada kami layaknya tamu. Setelah kami kembali ke basecamp di Mbay Mama Marselina sempat kembali menemui kami, kangen katanya. Bahkan, semalam sebelum kami berangkat ke Ende untuk melanjutkan perjalanan ke Bali mama Marselina kembali menemui kami untuk memberikan oleh-oleh. Kami cuma menumpang selama dua hari di rumahnya, tetapi dia memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Molo Mama Marselina, sampau jumpa lagi orang baik…

Lembo ade : salam khas orang Bima, secara harafiah berarti lapang dada, digunakan dalam berbagai kesempatan saat akan makan, mengucapkan selamat tinggal atau menyambut kedatangan seseorang

Molo : ungkapan yang sering diucapkan masyarakat Ngada dan Nagekeo ketika akan berpisah

#nakwd #udayanascientificexcursion2018 #udayanascientificexcursion2019

Panggangan Bushcraft dari Bangli

“Panggangannya ada bang ?”, tanya teman saya ketika kami sedang membersihkan ayam yang akan dipanggang.

Setelah turun dari Gunung Batur kami menyempatkan singgah ke peternakan ayam salah satu senior di Bangli. Rupanya di peternakan ayam baru saja ada panen. Kandang kosong dan ada beberapa ayam yang direject karena “cacat” .

Singkat cerita ayam yang direject jadi menu makan siang kami. Bang Coel, senior kami yang punya peternakan ayam tanpa banyak omong langsung menyiapkan panggangan tradisional yang saya sebut panggangan bushcraft dari Bangli .

Orang Bali kalo panggang ayam kaya gini “. Pelepah daun kelapa dibelah menjadi dua bagian dan ayamnya dijepit di bagian tengah. Setelah itu ujungnya diikat dengan tali dari pelepah pohon pisang. Kayu tipis seperti tusuk sate ditusukkan dari pantat ayam sampai tembus ke kepalanya dan dari sayap sampai ke paha.
Pelepah kelapa yang masih muda dipilih karena tidak mudah terbakar sama seperti tali dari pelepah pohon pisang. Kayu tipis dibuat dari bilah bambu karena selain cukup kuat juga mudah dibentuk.

” Mana ada panggangan di sini, kita buat panggangan sendiri ” Kata Bang Coel

Berkah Kopi Tambora

Awal Bulan Juli 2018 setelah turun dari Gunung Tambora saya bersama teman-teman menyempatkan untuk mengelilingi Dusun Pancasila. Dusun yang terletak di kaki Gunung Tambora ini terkenal sebagai salah satu titik awal pendakian Gunung Tambora selain beberapa desa lain seperti Desa Kawinda To’I atau Desa Piong. Dusun ini tidak terlalu luas, hanya ada beberapa gang saja dengan sebuah lapangan bola di tengah desa. Mengamati dusun ini di sore hari begitu menarik karena hampir semua penduduk dusun melakukan aktivitas yang sama : membereskan kopi yang sudah dijemur seharian atau menggiling kopi.

Rutinitas sore petani kopi di Dusun Pancasila

Kopi dan masyarakat Pancasila merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Perkebunan kopi di kaki Gunung Tambora yang dulunya dikembangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda menjadikan masyarakat Pancasila tidak bisa terlepas dari tanaman kopi. Kopi merupakan komoditas utama yang dihasilkan oleh masyarakat Dusun Pancasila. Kopi dari daerah ini terkenal dengan sebutan Kopi Tambora karena perkebunan kopinya yang terletak di sepanjang kaki Gunung Tambora. Bukan tanpa alasan pemerintah kolonial Belanda membangun perkebunan kopi di kaki Gunung Tambora, material letusan yang dihasilkan dari letusan dahsyat Gunung Tambora dua abad silam membuat tanah di kaki Gunung Tambora subur dan menghasilkan.  Perkebunan kopi yang dikembangkan oleh Belanda ini tidak hanya sekedar menjadi perkebunan kopi, tetapi turut memengaruhi kultur masyarakat Pancasila. Jangan heran kalau kopilah yang akan selalu dihidangkan kalau kita berkunjung ke Pancasila.

Potensi Agrowisata

Agrowisata secara sederhana dapat diartikan sebagai aktivitas wisata yang berbasis pada kegiatan pertanian. Agrowisata memanfaatkan lahan-lahan pertanian atau perkebunan dan aktivitas bertani sebagai atraksi wisata. Contoh daerah yang sukses mengembangkan agrowisata adalah daerah Batu di Malang yang menegembangkan arowisata di perkebunan apel. Dampak ekonomi yang ditimbulkan cukup besar terutama bagi petani, karena di samping penghasilan utamanya sebagai petani apel mereka juga mendapat bonus penghasilan dari agrowisata. Dusun Pancasila yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani kopi ditambah perkebunan kopi milik warga yang luasnya mencapai ribuan hektar memiliki potensi untuk mengembangkan agrowisata. Apalagi, tren masyarakat saat ini yang sedang menggemari kopi, ditambah lagi popularitas Kopi Tambora yang sedang naik daun. Aktivitas yang dapat dikembangkan adalah kegiatan memanen kopi dan menyiangi tumbuhan liar yang terdapat di kebun, memanen kopi sampai pada proses akhir yaitu menjemur dan menggiling kopi menjadi bubuk kopi. Agrowisata perkebunan kopi ini juga dapat dipadukan menjadi satu paket dengan wisata sejarah. Museum yang menyimpan barang-barang peninggalan milik masyarakat korban letusan dahsyat Gunung Tambora telah dibangun di tengah-tengah perkebunan kopi milik masyarakat dekat situs penggalian arkeologi. Mengunjungi museum sambil beristirahat setelah capek memanen kopi tentunya merupakan aktivitas wisata yang cukup menarik untuk ditawarkan kepada wisatawan. Terlepas dari aspek-aspek daya tarik wisata lain seperti ketersediaan fasilitas pendukung (ATM, sinyal telepon dll), dan aksesibilitas yang belum memadai agrowisata di Dusun Pancasila masih bisa dikembangkan dengan memanfaatkan potensi-poteni lokal yang ada.

Letusan dahsyat Gunung Tambora dua abad silam tentunya tidak melulu tentang duka atau kerugian. Tambora telah memberikan berkah lewat Kopi Tambora, berkah-berkah yang lain tinggal menunggu untuk diperhatikan dan dikembangkan seperti potensi agrowisata ini

 Salam Pesona Indonesia…!!!

Tentang (ka) Lembo Ade

Pos 4 Gunung Tambora, salah satu destinasi wisata utama di Sumbawa


Kalau berkunjung ke Pulau Sumbawa akan ada satu kalimat yang akan sering sekali kita dengar diucapkan oleh Orang Sumbawa, hampir dalam setiap situasi

“Lembo ade Bang”, ini adalah Bahasa Mbojo (Bima) yang pertama kali saya dengar ketika berkunjung ke Pulau Sumbawa bulan Juli kemarin. Kalimat ini diucapkan oleh teman-teman Mapala (mahasiswa pecinta alam) Londa yang menyambut saya bersama teman-teman di sana. Dalam hati saya berujar “Teman-teman ini kok pake Bahasa Bima, padahal mereka sudah tau kami ini pendatang”. Beberapa kali kalimat ini terus diucapkan oleh teman-teman Mapala Londa kepada saya dan teman-teman sambil bersalaman tangan. Tidak saja ketika menyambut kami, pada saat makan dan berpamitan hendak pergi juga teman-teman sering berseru “Lembo ade sae…!!!” atau “Lembo ade lenga…!!!”. Saya mulai curiga jangan-jangan kalimat yang saya dengar tadi merupakan salam khasnya Orang Bima

Lembo ade (kalembo ade) itu banyak artinya bang, kami Dou Mbojo (Orang Bima) juga kadang sulit mengartikannya, kalo secara harafiah lembo itu berarti lapang, besar atau sabar sedangkan ade berarti hati jadi artinya bisa sabar hati atau lapang dada“, ujar Bang Haris menjawab pertanyaan saya. Mendapat jawaban ini saya agak kurang puas dan memutusakan mencari arti kalimat ini di Google.

Membaca beberapa artikel dari yang penjelasannya paling ilmiah sampai yang dijelaskan secara santai saya menemukan sebuah kalimat yang saya rasa dapat menjelaskan arti dari kalimat “Lembo Ade” ini.”Benar kata ahli bahasa, kata atau ungkapan belum punya arti, jika belum dikontekskan. Artinya, kata atau ungkapan yang digunakan pemakai bahasa baru mempunyai artinya jika dirangkaikan dalam bentuk kalimat atau dirangkaikan dalam bentuk wacana“, penjelasan ini saya temukan dalam sebuah artikel blog di internet. Saya akhirnya cukup puas setelah menghubungkan “Lembo Ade” dengan penjelasan di atas. Saya akhirnya mengerti mengapa “Lembo Ade” hampir bisa digunakan dalam setiap kesempatan seperti ketika menyambut tamu, berpamitan, pamit hendak makan atau meminta maaf. Lembo Ade bisa digunakan dalam berbagai kesempatan tergantung konteks atau situasi yang ada.

Lembo ade lenga…!!!

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai